Friday, 6 August 2021

Bangsa Tikus

Aku tujukan puisi ini untuk politikus negara.


Kasihan tikus,
Berlari kelaparan,
Bertungkus-lumus,
Mengejar habuan,

Mengikut jalan yang sama,
Dijerat perangkap di tengahnya,
Segala sampah dianggap harta,
Gonggong ke sarang untuk dikira,
Siang lena malam berjaga,
Mengigit semua merosak jiwa,

Ada umpan perisa bisa,
Perut merajai kepala,
Rakus mengunyah derita,
Sendawa bahagia,
Pedih berpijar perit terasa,
Menunggu masa ajal menjelma,

Mata layu dan sayu,
Anak kecil mati pilu,
Di sini sungguh malu,
Di sana kena palu...

Nukilan Rasa
Sang belantara rimba



Rimba cintaku


Ekspedisi rimba cintaku,
Membuat langkah menjadi kaku,
Tersadung akar rindu,
Terpenjara banir kalbu,
Sesat dalam shahdu,

Ku cuba temui denai ke hatimu,
Simpangnya berliku,
Riuh unggas mengutuk malu,
Kau kayu gaharu,
Aku penglipur sendu,

Aku mahu,
Lebah Ilahi memandu,
Ke arah semerbak harummu,
Menjadi kasturi pakaianku,
Kekal abadi kelak di situ...

Nukilan Rasa
Sang belantara rimba



Musibah


Wajah mega itu,
Terukir rona senja,
Rintik kabut salju membasahi,
Pipi lembah,gunung dan rimba,
Sepasang rembulan bersinar redup,
Menguntum duka melukis rindu...

Gerigis tembok lapar si anak,
Memamah ranting tabah si ibu,
Deruan ombak nafas pesakit,
Mencorak pantai resah perawat,
Penjara belantara rakyat,
Menjadi kicauan yang berhormat...

Awan mendung pasti kan berarak,
Sirna pelangi pasti kan muncul,
Gerimis luka pasti kan berhenti,
Kerana bilah cahaya harapan,
Akan kembali terhunus,
Mengisi ceria di lurah nestapa,
Berkat kitaran alam Yang Maha Esa...

Nukilan Rasa,
Sang belantara rimba



Wednesday, 28 July 2021

Bidadariku


Dinginnya pagi memancing ilhamku,
Waktu mentari menguntum malu,
Ku lihat sosok indah disampingku,
Terhela sayu mencorak lagu,
Lena nyenyakmu sering dirasuk,
Oleh gurindam irama dengkur,
Atau semerbak haruman kentut,
Malah esakan Alya menagih candu,
Tidak pernah mematah ranting tabah,
Dalam melayari bahtera cinta,
Sabarmu persis si pujangga sepi,
Yang menyusun bait demi bait,
Menjadi lukisan citra warna puisi,
Agar dapat memekarkan,
Hati hati yang kian mati sebegini...

Aku tidak pernah mengerti,
Apa engkau menanam matamu disebelah mataku,
Atau engkau menyemai lensa di dalam kalbuku,
Sehingga dua jasad dan dua jiwa,
Menjadi satu dan tersimpul mati...

Suka duka susah senang kita harungi,
Terlatah anak-anak terkadang menghantui,
Kita melangkah dengan penuh berani,
Jerit perih gerimis gerigis kita layari...

Suatu masa nanti,
Wajahmu mengukir rona senja di balik mega,
Kedutnya memintal temali yang berselirat,
Ubanmu bak gerimis salju di kali,
Ayunya masih teguh seperti dulu,
Kau melihat aku dan aku melihat kamu,
Kita masih menganyam kasih dalam senyuman...

Nukilan Rasa,
Sang belantara rimba





Shafiqah

Selamat Hari Lahir buat isteriku Nor Shafiqah Helmi yang tersayang.Yang sedang nyenyak tidur keletihan melayan tingkah laku Alya,Amsyar dan Ammar sepanjang hari.

Oleh kerana ilham tengah mencurah...abang hadiahkan sebuah puisi cinta buat sayang..fresh dari oven ambil masa 30 minit untuk siap...

Ini adalah puisi cinta dan juga puisi ketuhanan.1 kata 2 maksud

Shafiqah,
Aku pernah rebah,
Belati cinta menikam jazbah,
Berkudis dan menanah,
Persis sukmaku dipanah,
Sakar madu, pawaka dan tulah...

Shafiqah,
Nur cahayamu buat ku megah,
Hapuskan duka biar punah,
Pimpin jalanku tatkala lemah,
Lembutkan nafsu amarah,
Agar tenang dalam mutmainnah....

Kan ku lagukan puisi kalbu,
Kan ku zikirkan irama shahdu,
Kan ku kucup sirna rindu,
Kan ku
peluk
haruman wangimu,
Jika kita saling redha meredhai,
Bersamalah kita seiringan ke jannahtul firdausi...

Nukilan Rasa,
Sang belantara rimba