Salam sahabat semua,
Kalau dahulu, aku cukup suka kepada sastera, tetapi ia adalah satu ranting yang dah lama aku tinggalkan dalam hidup. Tapi entah mengapa ada suara-suara halus yang memanggil aku kembali untuk berkarya.Mungkin di sini sahajalah wadah yang dapat aku abadikan segala kenangan aku dalam hidup sebagai tatapan generasi anak cucuku. Hayatilah keindahan puisi-puisi nukilanku di bawah
Tajuk: Cermin Hidupku
Malam,
Pedih dan pilu,
Keras dan kaku,
Derita gelapnya menghakis hatiku,
Pawana menerpa menerobos kalbuku
Fajar,
Simpulan terurai,
Mayang mengurai,
Dinginnya menusuk sum-sumku,
Tatkala sinar mentari menyinari,
Dikala air di kali menari,
Pabila bayang-bayang tubuhnya berseri,
Senyuman terukir akal warasku lari,
Ku tebarkan taat padamu bonda
Ku sematkan cinta padamu sang isteri,
Ku curahkan kasih padamu wahai anak,
Kalianlah kunci kubu kota
cintaku.
Nukilan rasa,
Sang belantara
Tajuk: Bidadari Neraka
Malam pekat itu likat berkilat,
Di sepanjang lorong-lorong kehidupan,
Di remang samar-samar neon kemerahan,
Tersentak aku akan kelibat pucuk hijau,
Terkesima aku terduduk melatah,
Tatkala disogok sutera biru,
Oleh sang kupu-kupu malam,
Mendongak menunggu fajar menyinsing,
Melutut berteleku berpeluk tubuh,
Terasa dingin namun ku pingin,
Tangan ku tadah kesampingkan padah,
Mencari sinar putih kembali,
Bertapak di kalbu hati-hatinya gelap,
Menjadi kuning sujud tersipu lesu,
Ku canang ke pelusuk tanah air,
Ku caci ku cerca ku coretkan,
Buat pedoman si pelaku hina,
Bidadari neraka.
Nukilan rasa,
Sang belantara
No comments:
Post a Comment